Aksi Massal Mahasiswa dan Masyarakat Sipil di DKI Jakarta
IBU Kota Negara, DKI Jakarta digoyang demonstrasi besar-besaran dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil, Jumat (12/6/2026). Ribuan orang turut serta dalam aksi ini sebagai bentuk keprihatinan dan kritik terhadap pemerintah atas kondisi yang terjadi belakangan ini. Demonstrasi ini menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terhadap berbagai isu yang dianggap mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa masalah yang disoroti oleh peserta aksi meliputi naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), masalah Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga keterlibatan TNI/Polri di ranah sipil. Isu-isu tersebut menjadi alasan utama bagi para peserta untuk turun ke jalan dan menyampaikan aspirasinya.
Aksi ini tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah seperti Solo dan Semarang, Yogyakarta pada Sabtu (13/6/2026), dan Banjarmasin dilaksanakan pada Senin (15/6/2026). Hal ini menunjukkan bahwa keluhan masyarakat tidak hanya terbatas pada satu wilayah, tetapi sudah merata di seluruh Indonesia.
Aliansi BEM se-Kalsel mengajak seluruh mahasiswa dan rakyat Kalsel untuk bergerak dan turun ke jalan. Ajakan ini disebarkan melalui media sosial dan mendapat respons positif dari masyarakat. Aksi ini dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.
Dijadwalkan mulai pukul 13.00 Wita, peserta aksi akan mendatangi Kantor DPRD Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat. Aksi ini diharapkan dapat menjadi alarm atau peringatan bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi agar tidak semakin terpuruk.
Meskipun beberapa hal yang terjadi saat ini merupakan dampak krisis global, salah satunya akibat terjadinya perang Iran Vs Amerika Serikat dan Israel. Namun, pemerintah tidak boleh tutup mata dengan tetap mempertahankan kebijakan yang memperparah kondisi saat ini.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada 10 Juni 2026 hanyalah salah satu klimaks yang makin memberatkan masyarakat. Sebab, meski kenaikan pada BBM nonsubsidi tapi ada dampak turunan dari kenaikan itu, seperti kenaikan harga sebagian barang dan jasa serta cepat habisnya BBM bersubsidi.
Sementara itu, terus melemahnya rupiah telah berdampak psikologis kepada para investor dalam dan luar negeri, juga para pelaku pasar. Di sisi lain, harga komoditas lokal yang mengandalkan bahan baku impor pun terus tertekan, salah satunya tempe dan tahu yang selama ini masih menggunakan kedelai impor.
Kasus dugaan korupsi pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) yang bergulir saat ini juga makin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelolaan program nasional pemerintah itu. Sementara koperasi merah putih yang diresmikan juga diliputi banyak persoalan. Padahal anggaran yang dikucurkan untuk program-program tersebut sangat fantastis, hingga memangkas anggaran program lainnya seperti untuk pembangunan dan pendidikan.
Masyarakat sudah resah. Di negara yang demokratis ini, demonstrasi tentu hal biasa agar suara mereka didengar dan mendapatkan perhatian. Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemerintah adalah pelayan rakyat. Saatnya pelayan mendengarkan suara tuannya.










