banner 728x250
Batam  

Indonesia Tak Lagi Sekadar Penonton di Selat Malaka: Pelindo Resmi Buka NTAA, Babak Baru Kedaulatan Maritim Dimulai

banner 120x600

Batam – Berhenti menjadi jalur lintasan semata, Indonesia kini bangkit menjadi pemain utama. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo secara resmi melakukan Soft Operational Launching NTAA (Nipah Transfer Anchorage Area) di kawasan Pelabuhan Feri Harbour Bay, Kepulauan Riau, Senin (25/5/2026). Langkah ini menandai dimulainya pengoperasian layanan kepelabuhanan strategis di Perairan Nipa, sekaligus menegaskan ambisi besar bangsa menguasai potensi ekonomi raksasa di jantung Selat Malaka.

Momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah langkah sejarah. Di jalur laut tersibuk dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan itu, ribuan kapal asing lewat setiap tahun membawa triliunan nilai perdagangan. Selama puluhan tahun, Indonesia hanya menjadi penonton. Kini, lewat izin konsesi resmi dari Kementerian Perhubungan tertanggal 6 Mei 2026, Pelindo mengambil alih peran strategis untuk mengelola dan mengusahakan layanan di perairan tersebut demi kedaulatan dan keuntungan nasional.

Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menegaskan bahwa kehadiran NTAA adalah tonggak kebangkitan maritim.

“Selat Malaka adalah urat nadi perdagangan dunia. Secara geografis kita memegang kuncinya, namun selama ini kita belum mengambil peran maksimal. Lewat NTAA, kita buktikan Indonesia berdaulat dan siap mengambil bagian besar dari denyut ekonomi global ini. Ini bukan sekadar bisnis pelabuhan, tapi strategi memperkuat posisi kita di rantai logistik internasional,” tegas Achmad dengan penuh keyakinan.

NTAA dirancang berstandar internasional dengan layanan lengkap yang sangat dibutuhkan kapal-kapal dunia, meliputi jasa Alih Muat Antar Kapal atau Ship to Ship Transfer (STS), pelayanan kapal, hingga penyimpanan terapung (floating storage). Selama ini, aktivitas bernilai ekonomi tinggi seperti STS banyak dilakukan di perairan sekitar tanpa pengelolaan maksimal negara. Kini, potensi itu masuk dalam tata kelola resmi Indonesia.

Pengoperasian tahap awal ini menjadi simbol wajah baru maritim nasional: lebih berdaulat, lebih kompetitif, dan siap bersaing. Achmad menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang mendorong terwujudnya titik strategis ini.

“Harapan kami jelas: NTAA berjalan aman, lancar, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi negara serta masyarakat Kepri. Babak baru peran Indonesia di kancah maritim dunia sudah dimulai,” pungkasnya.

( Tim Red )