banner 728x250
Batam  

Histeris di Grand Batam Mall! Ibu dan anak dihina dan dikeroyok di hadapan pengunjung: “Kami sudah resmi cerai, tapi mereka datang bawa rombongan untuk menghancurkan kami!”

Anak kecil menangis kocar-kacir diteror mantan keluarga: pria yang menemani dihajar habis-habisan, kasus dibawa ke polisi

banner 120x600

BATAM  – Pusat perbelanjaan megah Grand Batam Mall berubah menjadi ajang kekerasan dan penghinaan yang memalukan pada siang hari. Puluhan pengunjung terpaku menyaksikan adegan yang memilukan sekaligus memicu amarah: seorang ibu dan anak kandungnya diteror, dimaki di muka umum, hingga pria yang menemaninya dihajar habis-habisan oleh rombongan mantan suami.

Kekacauan yang terjadi di area depan gerai Watsons ini menimbulkan trauma mendalam pada anak yang masih belia, yang terlihat menangis histeris dan gemetar ketakutan di tengah keramaian. Padahal, hubungan rumah tangga sang ibu dengan pelaku utama sudah putus secara sah melalui putusan Pengadilan Negeri Batam.

Awal mula: belanja biasa berujung malapetaka

Berdasarkan keterangan eksklusif pihak pelapor kepada awak media, segalanya bermula saat ia bersama anaknya dan seorang pria berinisial DN hendak berbelanja kebutuhan biasa. Mereka sempat membeli minuman, lalu pelapor masuk ke area kasir Watsons untuk membayar barang belanjaan, sementara anaknya duduk menunggu di luar ditemani DN.

Tanpa peringatan apapun, suasana damai itu hancur seketika. Mantan ibu mertuanya yang berinisial K dan P tiba-tiba menghampiri mereka dengan wajah penuh amarah. Tak sepatah kata sapaan, mereka langsung meledakkan makian kasar, cacian, dan tuduhan yang tidak berdasar, diucapkan dengan suara lantang agar didengar seluruh pengunjung yang sedang lalu-lalang.

“Anak saya langsung ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Padahal sebelumnya anak saya sempat didekati mereka, tapi karena takut, anak saya sendiri yang lari menghampiri saya. Justru mereka menuduh DN membawa kabur anak itu, padahal DN hanya mengantar anak saya menemui saya yang sedang membayar,” ungkap pelapor dengan suara bergetar.

Demi menjaga kewarasan psikis anaknya, pelapor memilih menelan ludah dan diam seribu bahasa. Ia mencoba menenangkan anaknya yang sudah menangis tersedu-sedu. Namun niat damai itu tidak dibalas dengan baik, makian terus dilontarkan tanpa henti.

Kedatangan rombongan: kekerasan terjadi di depan umum

Belum reda ketegangan, sekitar pukul 12.45 WIB, mal kembali diguncang kejadian yang lebih mengerikan. Mantan suami pelapor tiba-tiba muncul dengan wajah merah padam, didampingi empat orang lainnya yang terlihat siap melakukan kekerasan.

Tanpa bertanya, tanpa mendengar pembelaan, rombongan ini langsung menerjang DN. Terjadi dorong-mendorong yang berujung pukulan. DN dikabarkan dihajar secara membabi-buta di hadapan banyak saksi mata.

Yang lebih menyayat hati, mantan ibu mertua pelapor justru sibuk merekam kejadian sambil terus berteriak-teriak, seolah sengaja mengarang cerita agar DN terlihat sebagai pihak yang bersalah dan memancing kemarahan orang banyak.

“Saya berusaha melerai, tapi saya sadar anak saya sudah trauma luar biasa. Saya harus menyelamatkan jiwa anak saya dari pemandangan yang mengerikan ini. Saya tidak ingin anak saya tumbuh membawa luka batin akibat kekejaman mereka,” ujar pelapor yang akhirnya memilih menjauh membawa anaknya yang masih menangis histeris.

Sudah resmi putus, tapi terus dikejar kebencian

Poin paling krusial dalam peristiwa ini adalah status hukum yang sudah jelas. Pelapor menegaskan, ia sudah resmi bercerai dengan mantan suaminya berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Batam yang sudah berkekuatan hukum tetap. Secara undang-undang, tidak ada lagi ikatan yang mengikat mereka.

“Jika sudah putus secara hukum, kenapa kami masih harus diancam, dimaki, dan dipukuli? Apakah bercerai belum cukup untuk memberi kami ruang bernapas? Mengapa mereka harus membawa kekerasan ke tempat umum dan melibatkan anak kecil yang tidak tahu apa-apa?” serunya penuh emosi.

Tak terima perlakuan sewenang-wenang tersebut, beberapa jam pasca-insiden, pelapor dan DN melangkahkan kaki ke Polsek Lubuk Baja untuk melaporkan peristiwa ini. Laporan mencakup dugaan perbuatan tidak menyenangkan, penghinaan di muka umum, hingga dugaan penganiayaan yang dialami DN.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan sedikitpun dari pihak mantan suami maupun keluarganya. Pihak kepolisian juga belum merilis keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan. Seluruh keterangan dalam berita ini berdasarkan versi pihak pelapor dan masih menunggu proses pembuktian hukum.

Masyarakat luas pun berharap aparat penegak hukum segera bertindak tegas. Jangan sampai tempat umum yang seharusnya aman, berubah menjadi arena pelampiasan amarah dan kekerasan yang mencederai hak asasi manusia, apalagi di hadapan anak-anak.

( Tim )