Kehilangan Dua Bocah di Pantai Ujung Karang
Pada hari Sabtu, 18 April 2026 siang lalu, kejadian tragis terjadi di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Saat itu, Mayang bersaudara dan temannya sedang melakukan piknik di sekitar pantai. Mereka menyaksikan dua bocah yang hanyut ke tengah laut.
Kejadian tersebut tidak pernah mereka duga. Mereka biasanya berkumpul setiap Sabtu sore untuk menikmati pemandangan pantai sambil membawa anak-anak masing-masing. Mereka juga sering makan bersama, menyuapi anak-anak di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi.
Saat itu, datang segerombolan bocah SD, dua di antaranya adalah korban hanyut, yaitu Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9). Kejadian ini memicu pencarian oleh berbagai pihak, termasuk Tim SAR gabungan dan BPBD bersama nelayan setempat. Namun, hingga hari ketujuh pencarian, korban masih belum ditemukan.
Mayang Permata Sari (27), salah satu dari empat saksi mata, mengungkapkan bahwa gerombolan bocah tersebut awalnya ingin berenang. Ia dan teman-temannya melarang mereka, tetapi tidak didengarkan. Saat itu, mereka sedang duduk di batu sembari menyuapi anak makan.
Beberapa menit kemudian, Mayang melihat salah satu bocah tenggelam. Ia langsung memberitahu yang lain. Terlihat bocah lainnya sempat memegang tangan yang tenggelam. Namun, ombak terus membesar hingga dua dari empat orang bocah tersebut terseret ke tengah laut.
Melihat kejadian itu, Mayang langsung memberitahu saudara dan temannya. Mereka langsung terjun ke laut untuk menyelamatkan korban. Bahkan, makanan mereka harus ditinggalkan. Namun, kondisi laut yang buruk membuat mereka tidak bisa menyelamatkan korban. Besarnya ombak dan banyaknya karang membuat posisi korban semakin menjauh ke tengah laut.
“Saya ingin menyelamatkan, namun posisinya semakin ke tengah, banyak karang dan di balik karang airnya dalam. Saya tak sanggup, apalagi perempuan,” ujarnya.
Annisa Nurfenti (30), Dian Milasari Eka Putri (37), dan Sri Puji Astuti (33) juga memberikan kesaksian serupa. Mereka meminta pertolongan warga sekitar hingga nelayan setempat untuk meminjam ban dalam. Bantuan ban dalam sempat datang, namun kedua korban sudah menghilang akibat air laut pasang saat kejadian.
Bantuan dari mahasiswa UNP yang sedang berada di kampus UBH juga datang. Mereka berenang menyelamatkan korban hingga kakinya terluka. Namun, korban tak berhasil diselamatkan karena sudah tak nampak dari pandangan akibat terbawa arus ombak ke tengah laut.
Hingga akhirnya, masyarakat satu persatu berdatangan ke pinggir pantai. Tak lama berselang, TIM SAR datang untuk melakukan pencarian. Sampai pencarian hari ketujuh, korban masih belum ditemukan. Mayang beserta saudara dan temannya masih memikirkan mereka.
Harapan mereka adalah jasad korban bisa ditemukan. “Harapan saya dan yang lainnya bisa ditemukan jasad mereka, karena masih terbayang-bayang hingga sekarang,” tambahnya.
Kesaksian yang sama juga diberikan oleh Dian, Annisa, dan Sri saat ditemui di Pantai Ujung Karang pada Sabtu (25/4/2026). Mereka mengungkapkan kisah yang sama dengan Mayang, mencoba menyelamatkan namun kondisi laut tak memungkinkan. Mereka hanya mampu meminta tolong kepada warga dan nelayan setempat untuk membantu korban hanyut.










