banner 728x250
local  

Atasi Banjir Ketintang-Margorejo, Pemkot Surabaya Bangun Rumah Pompa Baru

banner 120x600



Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara terpisah di satu titik saja. Ia menekankan pentingnya mengatasi akar masalah dari sisi hulu dengan melakukan penataan ulang aliran air (catchment area).

Selama ini, aliran air dari Jambangan hingga Karah cenderung menumpuk di kawasan Margorejo. Untuk itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) diperintahkan untuk melakukan pengalihan arus air.

“Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang,” ujar Eri di Surabaya, Minggu (26/4).

Pemkot Surabaya juga merencanakan perubahan arah aliran air dari Ketintang Baru agar air mengalir kembali ke saluran Kebon Agung melalui Central Park di kawasan Ahmad Yani dan Mang Kabayan (area Ketintang).

“Dengan begitu, saluran di Margorejo sampai Prapen nantinya, benar-benar hanya menampung debit air dari pemukiman setempat (bukan lagi jadi titik penumpukan air dari wilayah lain),” tambahnya.

Sebagai langkah strategis untuk mengatasi banjir di sekitar Royal Plaza dan Kantor Telkom Ketintang, Pemkot Surabaya akan membangun rumah pompa baru di bantaran Kali Surabaya, tepatnya di wilayah Pulo Wonokromo.

“Saya sudah meminta izin ke BBWS untuk menggunakan lahan sekitar 3-4 rumah warga untuk membangun pompa, supaya air dari area Telkom bisa segera ditarik ke sungai, sehingga tidak terjadi genangan di Ketintang,” jelas Eri.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menyatakan bahwa persoalan genangan di Ketintang, Gayungsari, hingga Karah cukup kompleks dan tidak bisa diselesaikan sekaligus.

“Banjir ini kompleks, tidak bisa selesai dalam satu tahun berjalan karena ada tahapan-tahapannya. Problem utamanya adalah beban air dari barat atau tol semuanya lari ke arah Timur, ke Wonorejo,” jelas Adi Gunita.

Untuk menindaklanjuti arahan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, DSDABM akan mengalihkan arus air secara signifikan dengan menghentikan beban di Avur Wonorejo dan membuat sodetan menuju Sungai Kebon Agung.

Langkah tersebut diambil karena kapasitas saluran menuju Prapen semakin terbatas. Dengan pembagian beban aliran ke arah selatan, diharapkan genangan di sejumlah titik seperti Ketintang, Karah, hingga Gayungsari dapat berkurang.

“Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo kita hentikan, lalu kita potong langsung ke arah Selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan begitu, volume air yang lari ke saluran Prapen akan berkurang drastis,” pungkasnya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menargetkan DSDABM agar bisa menyelesaikan pengalihan aliran air untuk mengatasi banjir di wilayah Ketintang hingga Margorejo, sebelum akhir Oktober 2026.

Strategi Pengelolaan Air yang Komprehensif

Penanganan banjir di Surabaya memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan terarah. Berikut beberapa strategi yang sedang diterapkan:

  • Pengalihan Aliran Air
  • Mengalihkan aliran air dari arah Karah dan tol ke Rumah Pompa SWK Karah.
  • Mencegah aliran air mengalir ke Saluran Avur Wonorejo yang melewati Ketintang.

  • Pembalikan Arus di Wilayah Ketintang

  • Membuat aliran air dari Ketintang Baru mengalir kembali ke saluran Kebon Agung.
  • Melalui jalur Central Park di kawasan Ahmad Yani dan Mang Kabayan.

  • Pembangunan Rumah Pompa Baru

  • Membangun rumah pompa di bantaran Kali Surabaya, khususnya di wilayah Pulo Wonokromo.
  • Menggunakan lahan sekitar 3-4 rumah warga yang telah mendapat izin dari BBWS.

  • Pengurangan Beban di Avur Wonorejo

  • Menghentikan aliran air yang menuju Avur Wonorejo.
  • Membuat sodetan menuju Sungai Kebon Agung untuk mengurangi beban aliran ke saluran Prapen.

Tantangan dan Proses Penyelesaian

Meski strategi sudah dirancang, proses penyelesaian banjir di Surabaya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.

  • Kompleksitas Masalah Banjir
  • Banjir di wilayah Ketintang, Gayungsari, dan Karah disebut sebagai masalah yang kompleks.
  • Tidak bisa diselesaikan dalam satu tahun karena memerlukan tahapan-tahapan yang panjang.

  • Beban Air dari Barat

  • Salah satu penyebab utama banjir adalah beban air dari arah barat atau tol yang terus bergerak ke timur.
  • Hal ini menyebabkan penumpukan air di wilayah Wonorejo.

Target dan Jadwal Penyelesaian

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menargetkan bahwa DSDABM harus menyelesaikan pengalihan aliran air untuk mengatasi banjir di wilayah Ketintang hingga Margorejo sebelum akhir Oktober 2026.

Ini menjadi langkah penting dalam upaya mengurangi risiko banjir dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut.