banner 728x250

Masa Pemerintahan Netanyahu Terancam Berakhir?

banner 120x600

Kehadiran Aliansi Baru Membuat Lanskap Politik Israel Kembali Memanas

Lanskap politik Israel kembali memanas setelah dua mantan Perdana Menteri (PM) negara tersebut, Naftali Bennett dan Yair Lapid, mengumumkan penggabungan partai mereka menjadi satu faksi baru yang diberi nama “Together”. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menantang dominasi PM Benjamin Netanyahu dalam pemilihan umum yang diperkirakan akan digelar akhir tahun ini. Aliansi ini tidak hanya sekadar manuver politik, tetapi juga usaha untuk menyatukan suara oposisi yang selama ini terpecah.

Dalam pernyataannya di televisi pada Minggu (26/4/2026), Bennett menyebut kolaborasi ini sebagai langkah besar bagi masa depan negara. Ia menyatakan bahwa tindakan ini adalah “langkah paling patriotik dan Zionis” yang pernah mereka tempuh. Meski datang dari kubu ideologi berbeda, Bennett dan Lapid memiliki rekam jejak bersama dalam menjungkalkan kekuasaan Netanyahu.

Bennett dan Lapid Mengulang Formula Koalisi Lama

Pada 2021, keduanya membentuk koalisi tak biasa yang berhasil mengakhiri 12 tahun dominasi Netanyahu. Pada tahun pertama, Bennett memimpin sebagai PM, sementara Lapid mengambil alih dalam enam bulan terakhir. Kini, pola yang sama ingin diulang melalui kendaraan politik baru. Lapid mengakui adanya perbedaan tajam antara dirinya dan Bennett, tetapi ia menegaskan bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama kerja sama tersebut.

“Langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan blok tersebut, mengakhiri perpecahan internal dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu yang krusial mendatang,” ujar Lapid. Ia juga menyebut Bennett sebagai figur sayap kanan yang jujur, sebuah pernyataan yang jarang muncul di tengah kerasnya rivalitas politik Israel.

Kritik Terhadap Perang Menjadi Alasan Bersatunya Kembali Dua Tokoh

Ada alasan besar di balik bersatunya kembali dua tokoh ini, yaitu kritik keras terhadap cara Netanyahu menangani perang pasca-tragedi 7 Oktober 2023. Jika terpilih, Bennett akan menyiapkan komisi penyelidikan nasional untuk mengusut kegagalan keamanan pada peristiwa itu, usulan yang selama ini diblokir oleh pemerintahan Netanyahu.

Perbedaan latar belakang keduanya justru menjadi daya tarik aliansi ini. Bennett dikenal sebagai Yahudi Ortodoks sekaligus mantan jutawan teknologi dengan pandangan keras terhadap Palestina, sedangkan Lapid berasal dari dunia media dan mewakili kalangan sekuler serta kelas menengah Israel yang makin jenuh dengan isu pajak dan keadilan wajib militer.

Survei Menunjukkan Ancaman Bagi Netanyahu

Strategi ini mulai menunjukkan dampak lewat survei terbaru. Data N12 News Israel menunjukkan elektabilitas Bennett melonjak dengan proyeksi 21 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 kursi, makin mendekati Likud milik Netanyahu yang diperkirakan meraih 25 kursi. Bagi Netanyahu, yang memimpin pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah Israel sejak menang pemilu November 2022, ancaman kali ini terlihat nyata.

Dengan batas pemilu paling lambat akhir Oktober, aliansi “Together” muncul sebagai poros baru yang bersiap mengguncang peta politik Israel. Apakah aliansi ini cukup kuat untuk mengguncang kursi Netanyahu yang sudah bertahan sangat lama, atau justru perbedaan ideologi di dalam “Together” akan menjadi batu sandungan nantinya?