Batam bahteramedianusantara.com. Polemik nasib puluhan pedagang kaki lima korban penertiban di kawasan depan PT Wasco masih terus bergulir dan menjadi sorotan publik. Pasca tindakan penataan yang membuat mereka kehilangan tempat berjualan, para pelaku usaha kecil ini kini memohon solusi yang benar-benar sesuai dengan realitas kehidupan dan kondisi usaha yang mereka jalani sehari-hari. Harapan besar mereka tertuju pada pihak pengelola kawasan, khususnya Deputi BP Batam Bapak Deni Tondano, agar mempertimbangkan kembali usulan mereka yang dinilai jauh lebih masuk akal dan menyelamatkan ekonomi keluarga.
Niat Baik Pemerintah, Namun Tidak Sesuai Kenyataan
Suasana mulai sedikit membaik setelah dilaksanakan pertemuan penting pada Selasa (12/5/2026) lalu antara perwakilan pedagang yang dipimpin Andi, Ketua Asosiasi Pedagang sekaligus Ketua LSM Bahtera DPP Kepri, dengan jajaran pimpinan BP Batam. Dalam pertemuan tersebut, pihak pengelola kawasan menyodorkan tawaran solusi berupa tiga unit ruko di seberang jalan PT Wasco, yang akan disediakan secara gratis selama enam bulan bagi para pedagang terdampak.
Solusi yang dinilai bernilai baik dan penuh perhatian ini, namun ternyata tidak sepenuhnya diterima oleh para pedagang. Setelah berdiskusi secara mendalam di antara sesama rekan seperjuangan, mayoritas pedagang menyampaikan sikap mereka: mereka tidak menolak niat baik pemerintah, namun mereka membutuhkan solusi yang benar-benar sesuai dengan karakter usaha kaki lima yang sangat bergantung pada lokasi strategis dan keberadaan pelanggan tetap.
Pelanggan Ada di Sini, Jangan Dipindahkan ke Tempat Sepi
Salah satu pedagang yang telah lama menggeluti usaha di kawasan tersebut, Sonnar Boru Nenggolan, menyampaikan permohonannya dengan nada penuh harap dan rasa hormat kepada Bapak Deputi Deni Tondano
“Kami sebagai pedagang bukan menolak niat baik Bapak Deni. Kami sangat menghargai perhatian dan kepedulian yang diberikan. Kami tahu ini bentuk perhatian pemerintah untuk membantu kami. Akan tetapi, kami mohon dimengerti bahwa kami ini memang pedagang kaki lima yang hidupnya sangat bergantung pada lokasi dan orang-orang yang biasa berbelanja di sini. Kami lebih nyaman dan bisa bertahan jika tetap berjualan di dekat PT Wasco. Oleh karena itu, kami memohon sekali kepada Bapak, kalau bisa kami tidak perlu dipindahkan jauh, cukup ditata saja rapi di area parkiran yang ada di sekitar sini,” ujar Sonnar dengan suara yang penuh harap.
Keluhan dan harapan yang sama juga disampaikan oleh Erna Siboro, seorang ibu rumah tangga yang juga menjadi tulang punggung keluarga dari hasil berdagang. Baginya, persoalan ini bukan sekadar soal di mana tempat mereka berdiri dan membuka lapak, melainkan soal nasib, keberlangsungan hidup, dan masa depan keluarga mereka.
“Pak Deni, kami ini hanya rakyat kecil, pedagang biasa yang bangun pagi-pagi sekali dan pulang larut malam hanya untuk mencari uang demi sepiring nasi untuk anak-anak kami. Kami bukan menolak bantuan atau tempat yang ditawarkan. Kami justru berterima kasih sebesar-besarnya atas perhatian Bapak. Tapi tolonglah pahami kondisi kami: pelanggan kami, orang-orang yang membutuhkan jualan kami, semuanya ada di depan PT Wasco ini. Kalau kami dipindahkan ke tempat yang jauh atau sepi, sama saja kami kehilangan mata pencaharian. Bagaimana kami bisa memberi makan anak-anak? Bagaimana kami bisa membayar sekolah mereka? Tagihan rumah dan kebutuhan hidup tidak pernah berhenti setiap bulannya. Kami hanya memohon kesempatan untuk tetap bisa bekerja dan hidup dari usaha kecil kami. Jika area parkiran ini bisa ditata dengan rapi dan tertib, kami siap sekali-kali diatur, siap menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban. Jangan sampai kami diberi tempat, tapi kami malah kehilangan harapan untuk bertahan hidup,” ungkap Erna dengan nada yang menyentuh hati.
Jalan Tengah: Ditata Rapi di Area Parkiran
Sebagai perwakilan resmi para pedagang, Andi menyampaikan sikap tegas namun tetap penuh rasa hormat dan kemanusiaan kepada pihak BP Batam. Ia meminta agar solusi yang diambil tidak sekadar memenuhi syarat administrasi atau formalitas belaka, melainkan benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat kecil yang sedang terpuruk.
“Pak Deni, saya memohon dengan sangat, lihatlah nasib para pedagang ini dengan hati yang lembut. Mereka bukan penjahat, bukan orang yang sengaja melawan aturan atau merusak ketertiban. Mereka hanyalah rakyat kecil yang setiap hari berjuang dengan keringat dan tenaga demi menyambung hidup keluarga masing-masing. Kami sangat menghargai niat baik Bapak yang sudah menyediakan solusi ruko gratis selama enam bulan. Namun, kami mohon pertimbangkan kenyataan yang ada di lapangan. Pedagang kaki lima ini hidupnya berputar di sekitar keramaian dan kehadiran pembeli tetap. Jika dipindahkan ke lokasi yang tidak strategis, sama saja kami memindahkan mereka menuju kesulitan yang jauh lebih besar,” tegas Andi.
Dengan nada yang berapi-api namun tetap santun, Andi juga menegaskan kesiapan seluruh pedagang untuk mematuhi segala aturan dan ketentuan yang berlaku jika keinginan mereka dikabulkan.
“Kami siap sepenuhnya tunduk pada aturan dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Jika area parkiran yang kami usulkan ini bisa ditertibkan dan diatur dengan rapi sesuai standar, kenapa tidak kita cari jalan tengah yang saling menguntungkan? Kami siap bertanggung jawab penuh menjaga kelancaran lalu lintas, kebersihan lingkungan, keamanan, dan ketertiban di lokasi tersebut. Jangan sampai kebijakan penataan kota yang bertujuan baik ini justru mematikan sumber penghidupan ratusan keluarga kecil. Kami hanya ingin bekerja dengan tenang, berkontribusi bagi perekonomian wilayah, dan menjadi mitra pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keindahan kota. Kami tidak ingin menimbulkan masalah apapun,” tambahnya.
Menurut pandangan para pedagang, solusi penataan di area parkiran dinilai jauh lebih realistis dan masuk akal. Hal ini dikarenakan konsumen utama mereka adalah para pekerja dan orang-orang yang beraktivitas di kawasan PT Wasco dan sekitarnya. Relokasi ke ruko di seberang jalan dikhawatirkan akan membuat usaha mereka kehilangan pembeli, yang pada akhirnya berakibat fatal bagi kelangsungan hidup mereka.
Saat ini, seluruh harapan para pedagang tertumpu sepenuhnya pada keputusan dan pertimbangan Bapak Deputi BP Batam Deni Sentono. Mereka berharap aspirasi mereka yang penuh logika dan rasa kemanusiaan ini bisa didengar, dipertimbangkan, dan dikabulkan, sehingga solusi yang diambil benar-benar menjadi penyelamat ekonomi keluarga kecil, bukan sekadar tindakan pemindahan tempat usaha yang tidak mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.
(Tim Red)
















