banner 728x250
Batam  

Penggusuran Tanpa Solusi Tuai Kecaman, Tokoh Masyarakat Batam Minta Ada Kepastian Berusaha

banner 120x600

Batam – Maraknya tindakan penertiban dan penggusuran terhadap pedagang kecil di berbagai sudut Kota Batam kini menjadi sorotan tajam sekaligus menuai kecaman keras dari kalangan Tokoh Masyarakat dan Aktivis Sosial. Kebijakan sepihak yang dilakukan tanpa disertai jalan keluar nyata dinilai sangat merugikan kelompok ekonomi lemah yang saat ini sedang berjuang mati-matian bertahan hidup di tengah beratnya tekanan biaya hidup.

Ketua DPP LSM Bahtera Nusantara Kepri, M. Andi, menegaskan bahwa meskipun Pemerintah Kota memiliki kewenangan mutlak dalam mengatur tata ruang dan keindahan kota, namun tersemat pula Tanggung Jawab Moral untuk memastikan warga kecil tidak menjadi korban dari laju pembangunan tersebut. Menertibkan wilayah tidak boleh menindas hak hidup warga yang lemah dan tidak berdaya.

Menurut pengamatan M. Andi, kebijakan yang hanya berfokus pada eksekusi di lapangan namun melupakan nasib warga setelah diusir dinilai sangat tidak berperikemanusiaan. Bagi ribuan pedagang kecil di Batam, sebidang tanah atau tempat berteduh untuk berdagang bukan sekadar bangunan liar, melainkan Sumber Nyawa dan penopang utama kehidupan seluruh anggota keluarga.

“Jangan hanya pandai menggusur, tapi lupakan nasib mereka sesudahnya. Cari solusi, bukan sekadar menertibkan. Lapak itu adalah nyawa bagi kami rakyat kecil,” tegas M. Andi dengan nada lantang mewakili jeritan batin ribuan pedagang kecil yang kini merasa terancam kehilangan mata pencaharian.

Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat nasib pedagang kecil semakin rapuh. Ketika tempat usaha mereka diratakan dengan tanah, maka putuslah sudah harapan mereka untuk membiayai pendidikan anak-anak serta memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Menindas pedagang kecil sama artinya dengan Mengancam Masa Depan Generasi Penerus Kota Batam.

Senada dengan itu, Aktivis Perempuan Kota Batam, Naning Herawati, turut menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kritik tajam terhadap tindakan represif yang kerap terjadi. Ia mengajak seluruh unsur Pemerintah Kota untuk melihat persoalan ini menggunakan Hati Nurani dan Perasaan Kemanusiaan yang luhur.

Menurut Naning, di balik sebuah lapak kecil yang berdiri sederhana terdapat nasib panjang kehidupan keluarga yang menggantungkan harapan di sana. Ada anak-anak yang menanti biaya sekolah serta dapur rumah yang menanti pemasukan. Penindakan paksa tanpa kepastian hanya akan mematikan harapan sekaligus melukai hati nurani rakyat.

“Lakukan penataan dengan cara beradab dan berhati nurani. Berikan kepastian berusaha dan tempat yang layak. Jangan biarkan kemajuan Kota menindas hak hidup warga kecil,” sergah Naning Herawati mengingatkan agar pendekatan kekerasan dihentikan dan diganti dengan musyawarah serta kebijakan yang berkeadilan sosial.

Menyikapi hal ini, M. Andi dan Naning Herawati sepakat mengingatkan Pemerintah Kota Batam agar kemajuan kota tidak hanya mengejar keindahan fisik belaka. Kemajuan sejati baru tercapai apabila pembangunan beriringan dengan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kemajuan Kota Jangan Dibangun di Atas Penderitaan Rakyat Keci

( Tim Red)